Showing posts with label MAIDU. Show all posts
Showing posts with label MAIDU. Show all posts
MENGAJARI ORANG-ORANG CARA MENDIRIKAN KERAJAAN

MENGAJARI ORANG-ORANG CARA MENDIRIKAN KERAJAAN


Akhir-akhir ini Indonesia sedang digemparkan dengan kemunculan berbagai “kerajaan” baru yang terkesan absurd.

Kita sebagai manusia normal rata-rata dibuat terkejut dan mengerutkan dahi kemudian terpingkal-pingkal akibat ulah dan bahasa raja yang absurd dan terkesan ndakik-ndakik itu.

Bagaimana tidak, mereka membangun sebuah sistem kerajaan di dalam sebuah negara yang memiliki sistem pemerintahan.

Kita tidak pernah tahu apa motif mereka sebelum dilakukan sebuah dialog, namun kalaupun diadakan dialog, mereka akan tetap mengeluarkan statement yang absurd dan tidak masuk akal.

Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, yang sementara ini menguasai arena permainan raja-rajaan di Indonesia saat ini.

Saya teringat ketika masih belajar di bangku perkuliahan sebagai mahasiswa Sejarah Islam, ketika dosen saya menjelaskan peristiwa sejarah terkhusus sebuah proses berdirinya sebuah kerajaan.

Ada banyak hal yang seharusnya diperhatikan oleh mereka para pendiri kerajaan baru. Banyak hal tersebut bukan hanya sekedar membuat kostum dan mendeklarasikan diri sebagai raja dan ratu.

Dalam sejarah, ada banyak sekali kerajaan yang pernah berjaya, kejayaan itu ada yang bertahan hingga ratusan tahun dan tidak sedikit pula yang hanya bertahan puluhan tahun.

Tentu pada masa lalu mereka para pendiri kerajaan tidak hanya semata-mata mendirikan bangunan untuk istana dan kostum untuk pengikut.

Tapi mereka juga membangun sebuah sistem keamanan demi keutuhan kerajaan mereka.

Ada dua contoh latar belakang berdirinya kerajaan yang mungkin bisa dijadikan referensi bagi orang-orang dalam mendirikan kerajaan,

Contoh pertama berdirinya kerajaan Islam Mughal di India.

Pendirinya bernama Zahiruddin Babur, ia merpakan seorang yang sangat tangguh.

Cara dia mendirikan sebuah kerajaan dimulai ketika ia berhasil mengalahkan lawannya, dalam hal ini adalah Ibrahim Lodi yang sebelumnya ia adalah penguasa di Delhi.

Babur beserta pasukannya berperang, menghabiskan banyak sekali tenaga dan biaya, bahkan darah untuk mengalahkan lawannya yang saat itu sedang nangkring di Delhi sebagai penguasa.

Tentu perlawanan yang dilakukan Babur tidaklah mudah, namun dengan kegigihan dan keinginan untuk menang, ia berhasil mengalahkan pasukan Ibrahim Lodi.

Tahun 1525 M, dalam perjalanannya Babur berhasil menguasai Punjab.

Setelah itu ia memimpin tentaranya menuju Delhi.

Babur dengan 12.000 pasukannya menyerang Ibrahim Lodi yang mengerahkan 100.000 prajuritnya, pada 21 April 1526, maka terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat.

Babur mampu memenangkan pertempuran, sehingga sultan Ibrahim Lodi terbunuh beserta 25.000 tentara pasukannya.

Begitu kerasnya perjuangan Zahiruddin Babur dalam mendirikan kerajaan Islam Mughal di India.
Contoh yang kedua ini agak sedikit berbeda, yaitu kerajaan Mataram Islam.

Pada mulanya, Mataram adalah wilayah yang dihadiahkan oleh Sultan Adiwijaya kepada Ki Gede Pemanahan.

Atas jasanya yang telah berhasil membantu Sultan Adiwijaya dalam membunuh Arya Penangsang di Jipang Panolan.

Wilayah yang diberikan kepada Ki Gede Pemanahan berada di daerah Kotagedhe. Di tempat ini lahirlah sebuah kerajaan Mataram Islam.

Seiring pergantian Sultan-sultan di Mataram Islam, salah satu pewaris tahta kerajaan yaitu Panembahan Senopati memiliki strategi unik untuk melanggengkan dan menguatkan statusnya.

Strategi tersebut berupa penciptaan mitos adanya penguasa laut selatan yaitu Nyi Roro Kidul.

Rupanya mitos Nyi Roro Kidul ini mampu membuat Panembahan Senopati menjadi lebih kuat.

Rakyat percaya bahwa Nyi Roro Kidul merupakan istri ghaib dari Raja Mataram, mulai dari Panembahan Senopati hingga seterusnya.

Kekuatan ghaib yang dibangun oleh Mataram Islam dalam melegitimasi kekuasaannya terbukti berhasil.

Mengingat bahwa masyarakat Jawa pada masa lalu sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistis.

Dari kedua peristiwa yang berbeda tersebut, harusnya para pendiri kerajaan sekarang bisa mengambil pelajaran.

Kesimpulannya adalah bahwa mendirikan kerajaan bukanlah sebuah agenda yang mudah.

Dengan cara pertama, kerajaan baru bisa berdiri melalui jalur peperangan, yaitu menumbangkan dominasi penguasa sebelumnya dan menggantinya dengan kekuasaan baru.

Tentu hal itu harus dibarengi dengan kekuatan militer yang sangat kuat.

Apabila pada masa sekarang kerajaan baru tidak akan mampu melawan kekuatan militer yang telah dibangun oleh negara, maka cara kedua adalah dengan membangun mitos-mitos.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Panembahan Senopati.

Sebagai contoh mungkin Keraton Agung Sejagat bisa menciptakan mitos bahwa mereka merupakan titisan dari Dewa Zeus atau bahkan mengaku sebagai saudara sepersusuan Nyi Roro Kidul.

Menarik bukan?
Sadboy? Tidak dong.

Sadboy? Tidak dong.


Dek opo salah, awakku iki.
Koe nganti tego mblenjani janji
Opo mergo, kahanan uripku iki,
Mlarat bondo, seje karo uripmuuuuu
Aku nelongso mergo kebacut tresno
Ora ngiro saikine cidro


Ah sungguh nikmat memang lantunan syair dari mas Didi Kempot. Lagu cidro memang mampu membawa pendengarnya merasakan sakitnya dikhianati oleh pasangan atau oleh orang yang kita cintai. Bahkan bagi orang yang tidak pernah merasakan itu, ikut mendengarkan lagu itu sudah cukup untuk memberikan pengalaman menyakitkan seperti halnya yang diceritakan oleh lagu itu.

Mas Didi memang lihai dalam menulis kata untuk kemudian diinterpretasikan oleh anak muda dalam bentuk sakit hati yang mendalam. Bahasa sederhananya adalah “Mas Didi Kempot mengintimidasi anak muda untuk merasakan sakit hati”, dan hal itu sangat berhasil.

Tapi bukan itu yang seharusnya membuat kita menjadi bangga. Lelaki bangga bukan di saat bersedih, tapi lelaki harus bangga ketika mereka bisa mengatasi rasa sedih menjadi motivasi untuk melakukan lebih. Nice.

Hampir semua orang pernah merasakan sakit hati, dan sebagian dari mereka akan menjadikannya sebagai motivasi untuk melangkah lebih jauh. Namun sebagian lagi akan masih berlarut-larut dalam rasa sakit yang sebenarnya tidak akan ada habisnya.

Poin pentingnya adalah, akan sampai pada masanya, dimana kalian akan menertawakan kesedihan yang saat ini sedang dialami. Kalau masih tidak bisa, tunggu aja karena pada waktunya sedihmu saat ini akan menjadi lucu di kemudian hari.
Kita Dipaksa Bermoral

Kita Dipaksa Bermoral


Tanpa kalimat pembuka, dan tanpa basa basi, saya ingin berbicara ini.
 
Dikatakan di berbagai macam literatur bahwa peradaban Barat berbeda dengan peradaban Timur. Orang menyebutnya orang Timur dan orang Barat. Orang Barat bisa diafiliasikan kepada orang Eropa dan Amerika, sedangkan orang Timur terinterpretasikan melalui orang Asia.

Dalam hal moral, sebenarnya Barat dan Timur memiliki cara masing-masing untuk menjadi orang “bermoral”. Namun di Timur tentu lebih kental. Indonesia sebagai negara dan bangsa yang berada di Timur juga kental akan budaya Timur yang dikenal sebagai budaya yang lebih bermoral. Budaya Timur kental akan sopan santun, sedangkan budaya Barat tidak demikian. 

Di Jepang misalnya, orang mempunyai cara untuk menghormati orang lain dengan membungkukkan badan, sedangkan di Indonesia, penghormatan terhadap orang bisa melalui berjabat tangan atau yang lainnya. Orang Timur itu kalau orang Jawa bilang memiliki unggah-ungguh. 

Namun, perbedaan antara Barat dan Timur semakin hari semakin terkikis dengan semakin tidak adanya batas antar satu bangsa dengan bangsa yang lain. Orang Indonesia akan dengan mudah mengetahui bagaimana orang Amerika meminum kopi, dan sebaliknya, secara singkat orang Amerika akan bisa mengetahui bagaimana orang Indonesia berbicara.

Semakin lama semakin tidak ada batas, sehingga terjadi percampuran (akulturasi). Orang Barat semakin dengan kemajuan terknologinya mulai memberikan pengaruh kepada orang Timur. Mulai dari cara berpakaian, cara berjalan, cara meminum kopi, bahkan cara mengumpat. Orang Timur atau dalam hal ini adalah Indonesia semakin menjadi Barat. Dengan begitu salah satu aspek ketimuran mereka yaitu tentang moral juga semakin ditinggalkan.

Kita semua sepakat bahwa Barat memberikan pengaruh yang positif dalam hal teknologi, namun untuk budaya, Timur bisa dikatakan lebih sopan daripada Barat. Orang Timur akan kaget ketika melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan orang Timur namun lumrah di Barat, misalnya ketika anak muda ciuman dipinggir jalan, perempuan pakai celana pendek dan lain sebagainya.

Hal itu kemudian berbuntut pada “hilangnya budaya Timur” bagi sebagian orang. Sekali lagi moral adalah kata yang dijunjung tinggi oleh orang Timur. Dan tidak bermoral adalah kata yang sangat dihindari oleh orang Timur. Terlebih orang Timur merupakan orang yang religius.

Hilangnya jatidiri orang Timur karena adanya globalisasi tidak bisa dihindari dengan mudah. Kecenderungan meniru apa yang dilihat memiliki daya pikat yang lebih kuat daripada apa yang seharusnya mereka pelajari. Jadi budaya Barat yang ditunjukkan melalui berbagai macam media sangat cukup untuk mempengaruhi orang Timur dan sedikit demi sedkit mengikis budaya Timur.

Tidak ada yang harus bertanggung jawab atas fenomena ini. Kita tidak perlu memaksakan mereka untuk kembali bermoral. Kita tidak perlu mengingatkan mereka bahwa mereka adalah orang Timur. Yang perlu kita lakukan hanyalah melawan Barat dengan cara mengembangkan teknologi dan berikan cara bagi Orang Timur untuk mengenalkan budayanya terhadap dunia melalui teknologi.
Politik Indonesia Yang 'Njelimet'

Politik Indonesia Yang 'Njelimet'

Politik. iya politik... Sebuah pembahasan yang tidak akan pernah selesai seiring manusia yang selalu ingin duduk dan mendapatkan jabatan yang ia dambakan.
 
Di Indonesia, politik semakin tahun semakin membingungkan. Kecamuk politik setelah kemerdekaan yang masih kita dengar sampai sekarang adalah tentang penggulingan pak Harto tahun 98. Awal perubahan yang dibangga-banggakan oleh sebagian besar pejuang reformasi yang sekarang masih bergema.

Setelah reformasi berjalan, Indonesia mulai stabil. Politik semakin hari semakin “membaik” namun akhir-akhir ini sepertinya ada hal yang sedikit menodai proses rehabilitasi politik di Indonesia. Hal itu dimulai ketika politik agama, politik identitas, dan poitik sara mulai ditegakkan.

Keruwetan yang terjadi pada tahun-tahun ini menurut sebagian besar orang bukanlah hanya sekedar “dia lah yang harus memimpin, karena dia cakap dan bijaksana”. Tapi lebih kepada “saya tidak ingin dia yang mempimpin, maka saya pilih ini (karena tidak ada yang lain)”.

Maka sampai di sini, muncul istilah anyar yaitu politik kebencian, politik ketakutan dsb. Sikap politik yang terjadi akibat dari adanya unsur kebencian dan ketakutan terhadap salah satu orang (lawan).

“saya milih Prabowo karena saya tidak ingin Jokowi yang mimpin”. “saya milih Jokowi karena saya takut jika Prabowo jadi presiden akan bla bla bla”. Begitulah kiranya. Sampai muncul stigma-stigma bahwa pendukung yang satu adalah kelompok radikal dan pendukung yang lain adalah kelompok antek aseng. Belum lagi persoalan cebong dan kampret. duhh


Sikap yang demikian adalah sikap yang tidak sehat. Ketidaksehatan tersebut tercermin dari keadaan perpolitikan Indonesia yang semakin sakit sesakit-sakitnya.

Setelah pilpres berlangsung dan sidang MK yang menyatakan bahwa tuduhan 02 tidaklah valid dan tidak bisa diterima, meskipun Buk Beti mengatakan kalau di Boyolali tidak ada aspal, politik Indonesia tidak kian membaik.

Setelah putusan itu, banyak orang yang menyerukan untuk adanya “rekonsiliasi” antara Jokowi dan Prabowo. Rekonsiliasi tersebut sempat ditolak oleh kubu sebelah. Meskipun begitu, rekonsiliasi tetap dilaksanakan.

Akan tetapi yang terjadi bukanlah damai. Namun para elit mengatakan bahwa rekonsiliasi hanyalah sarana untuk memperoleh jabatan di pemerintahan.

Pertemuan Jokowi dengan Prabowo seharusnya dijadikan sebagai moment untuk bersatu kembali, merajut cinta kasih sebagai manusia sebangsa dan setanah air. Namun ternyata hal itu mustahil dilakukan.

Salah satu kelompok pendukung Prabowo yang memproklamirkan diri sebagai “ulama” memutuskan untuk keluar dari barisan pendukung, karena pertemuan Prabowo dengan Jokowi. Itu merupakan fenomena yang menarik untuk dibahas.

Keluarnya mereka disebabkan karena kekecewaan mereka atas tindakan pemimpin mereka karena mau untuk berekonsiliasi dengan lawan politiknya. 

Sampai sini semakin terlihat bahwa politik kebencian telah merajalela. Bagaimana bisa, ketika pemimpin mereka sudah mulai lunak dan menginginkan untuk kembali merajut persatuan dan perdamian justru malah ditolak dan ditinggalkan?

Sikap yang seperti itu nampaknya terjadi karena figur mereka dinilai sudah terkontaminasi oleh lawannya. Sehingga figur mereka “mungkin” sudah masuk dalam kategori lawan. Sungguh sangat miris.

Namun, tidak banyak orang yang tahu mengapa itu bisa terjadi. Tapi yang pasti, apabila sikap politik lahir karena kecintaan terhadap salah satu figur. Bukan penolakan yang mereka lakukan. Tapi dukungan dan persatuan yang mereka tegakkan.

Wallahu a’lam 


Baca juga:

Polarisasi Masyarakat Indonesia

Polarisasi Masyarakat Indonesia


Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia disuguhkan oleh drama politik yang luar biasa menegangkan. Antara kelompok satu versus kelompok dua. 

Polarisasi masyarakat yang terjadi akibat suhu politik yang semakin meningkat menimbulkan anggapan-anggapan bahwa kontestasi politik diartikan sama dengan kontestasi ideologi.
 
Di satu pihak menilai bahwa kontestasi politik tahun 2019 adalah terjadi antara kelompok radikalis melawan pancasilais. 

Di pihak lain menilai bahwa kontestasi politik ini terjadi antara kelompok Islam melawan anti Islam. Anggapan tersebut sebenarnya tidaklah salah. 

Namun apabila ditinjau dari alasan mereka membuat narasi itu. Hal itu sangat bermuatan subjektif.

Pertama, alasan pihak satu memunculkan narasi tersebut rupanya berkaca pada situasi dan kondisi masyarakat yang ribut karena politik. 

Sudah sama sekali tidak percaya dengan pemerintahan yang sedang memimpin sehingga menginginkan lahirnya pemerintahan baru yang dinilai lebih “menguntungkan” mereka. 

Kemudian bagaimana bisa memobilisasi massa yang banyak mengingat bahwa pemilu sebelumnya kelompok ini kalah? Maka strategi yang diambil adalah dengan sedikit menyentil sentimen agama. 

Strategi ini berhasil dalam menaikkan pamor dan menjatuhkan lawan pada pemilihan gubernur DKI Jakarta. 

Mengingat bahwa agama sangat empuk untuk menumbuhkan jiwa ashobiyah yang ada pada diri masyarakat Indonesia, maka aliran agama yang juga ingin eksis dalam perjuangan ini mulai masuk dalam koalisi tersebut. 

Termasuk aliran agama yang sebelumnya tidak mendapatkan tempat di pemerintahan. Hal itu tidak menutup kemungkinan masuknya aliran militan dalam agama yang juga menginginkan eksistensi dalam pemerintahan. 

Sehingga tidak salah apabila kelompok satu menganggap bahwa mereka (kelompok dua) adalah kelompok militan (radikal).

Kedua, narasi yang ditimbulkan kelompok dua juga tidak bisa dibilang salah. Mereka menganggap bahwa aksi yang mereka lakukan dalam rangka melawan ketidak adilan sudah seharusnya mereka lakukan. 

Hal itu terjadi karena respon mereka terhadap “ketidak adilan” yang mereka dapatkan selama ini. 

Ketidak adilan yang mereka dapatkan dari pemerintah agaknya terjadi karena posisi mereka sebagai kelompok yang berada di luar istana dan memang tugas mereka adalah mengkritik dan memposisikan diri untuk tidak setuju dengan pemerintah. Itulah yang disebut dengan oposisi. 

Kelompok oposisi inilah yang banyak di dominasi oleh orang-orang yang bergerak atas nama ormas. Kelompoknya lah yang menurut mereka sering mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya mereka dapatkan. 

Kritik-kritik mereka menuntut pemerintahan yang baik didasarkan pada  ideologi mereka. Dan seringkali mereka terciduk polisi akibat kritik tajam mereka dengan dalih bahwa kelompok dua ini telah melakukan ujaran kebencian. 

Dan tentunya dengan tertangkapnya para tokoh “agama” mereka, sangat wajar apabila muncul narasi “kriminalisasi ulama”. 

Ulama adalah orang yang dicintai dalam agama Islam, dan apabila ada kriminalisasi ulama berarti yang menangkap ulama adalah pembenci ulama, dan sang pembenci ulama bisa diartikan sebagai pembenci agama “Islam”.

Jadi dua kelompok tersebut akan terus berseteru dan bersitegang menghadapi segala macam situasi. Terbukti bahwa setiap permasalahan yang muncul. 

Kedua kelompok ini akan mengeluarkan pendapat yang berbeda. Kecuali dalam hal yang mereka harus menyuarakan persamaan. Seperti sama-sama pancasila dan sama-sama manusia.

Baca Juga :

Idealisme para Ahlul Sesatisme

Idealisme para Ahlul Sesatisme


Dalam bahasa sejarah kelompok kanan yang berhaluan agak lebih keras dan tidak lunak seperti kaum moderat diberi nama kelompok fundamental. Fundamental adalah lawan dari liberal. Fundamental secara bahasa berarti “dasar”, sedangkan dalam konteks ini kita sebut saja fundamentalisme.

Kita tahu bahwa apabila suatu kata yang telah terselip kata “isme” akan diartikan sebagai sebuah ajaran. Jadi fundamental yang berarti “dasar” tersebut apabila diselipkan kata “isme” di dalamnya berarti sebuah ajaran yang fundamental, atau berarti ajaran yang mendasar.

Sedangkan dalam KBBI fundamentalisme berarti “faham yang cenderung untuk memperjuangkan sesuatu secara radikal” atau bisa juga diartikan sebagai sebuah “penganut yang bersifat kolot dan reaksioner”.

Ortodoksi dalam beragama tersebut rupanya dari dulu juga sudah ada dan sampai sekarang masih saja berkembang. Perkembangannya dari generasi ke generasi memang tidak selalu sama.

Namun kecenderungan dalam beragama yang berdasar pada kekolotan dalam memahami agama selalu menjadi alasan lahirnya sebuah gerakan fundamental tersebut.

Pada masa nabi, gerakan fundamental ini memang belum terlihat. Karena super power nabi sebagai pembawa risalah dan utusan Tuhan tidak dapat dilawan. Namun setelah nabi wafat, gerakan ini mulai muncul dan memberikan dampak besar terhadap kehidupan keberagamaan pada zaman itu. 

Gerakan fundamental pada masa itu diawali dengan lahirnya gerakan Khawarij.  Mereka menyatakan diri keluar dari golongan Ali bin Abi Thalib karena dianggapnya Ali tidak menjalankan hukum Allah ketika tengah berperang melawan kelompok Mu’awiyah. Ia menerima perjanjian dengan Mu’awiyah yang saat itu membawa Alqur’an sebagai alat untuk memperdaya Ali. Hal itu berakibat kalahnya Ali, hingga terbunuhnya Ali di tangan orang Muslim yang radikal.

Dilanjut dengan kelompok Mu’tazilah yang juga sedikit banyak masih radikal pada masanya. Mereka melahirkan kebijakan yang mengharuskan orang untuk mempercayai Mu’tazilah. Sehingga toleransi dalam bermadzhab pada saat itu sangat kecil.

Hingga pada abad 21 ini tidak lantas kemudian gerakan radikal tersebut menjadi hilang. Gerakan yang selalu mencari pembenaran atas dirinya dan selalu mencari kesalahan atas kelompok lain pada abad ini juga masih tersebar di mana-mana. Di periode ini radikalisme akan selalu diartikan sebagai terorisme. 

Memang dalam menentukan mana gerakan yang radikal fundamental dan mana yang tidak sebagian besar orang masih sering berdebat. Namun standart bagi gerakan fundamental secara umum sudah tergambar pada bagian awal tulisan ini.

Di Indonesia gerakan ini sering disematkan pada kelompok yang berideologi takfiri, atau ideologi yang mengkafirkan kelompok lain dan mengatasnamakan kelompoknya lah yang paling benar.
Sehingga masalah surga dan neraka dipandang sebagai hitam dan putih bagi mereka. Barang siapa yang termasuk dalam golongan mereka, maka akan masuk surga dan barang siapa yang tidak bersama mereka akan masuk neraka.

Dalam sejarahnya, radikalisme Islam di Indonesia diawali dengan lahirnya gerakan DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia) dan NII (Negara Islam Indonesia) yang menginginkan Indonesia berdiri sebagai negara Islam. 

Di era reformasi ketika nafas segar baru saja dihirup oleh bangsa Indonesia setelah terkukung lama oleh perode orde baru, gerakan-gerakan fundamental juga ikut dalam kemeriahan menyambut pesta kebebasan berekspresi tersebut.

Maka muncul lah beberapa gerakan yang selama ini hanya bergerak di bawah tanah akhirnya mulai berani menampakkan diri di muka umum. Meskipun kelompok radikal yang sejati masih saja bersembunyi di balik tabir mereka, dan gemar melakukan teror-teror yang mengancam dan menakuti masyarakat lainnya.

Secara umum ada tiga hal yang menyebabkan sebuah kelompok itu menjadi radikal dan memiliki jiwa separatis. Pertama, adalah karena ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah atau negara setempat yang dianggap merugikan dan tidak menguntungkan suatu kelompok. Kedua, karena pengaruh dari kelompok lain. Dan yang ketiga adalah karena penafsiran yang salah dalam memahami sebuah ajaran, dalam hal ini adalah ajaran agama.

Namun masalah yang kemudian muncul adalah bagaimana pemerintah atau negara menyikapi adanya kelompok radikal dan mengancam kedaulatan negara mereka? apakah gerakan tersebut pantas untuk disingkirkan ataukah hanya layak dianggap sebagai gerakan yang akan musnah di kemudian hari? Entahlah.

Baca Juga :

Utopia Cinta Para Mahasiswa

Utopia Cinta Para Mahasiswa


Aku tak punya bunga,
Aku tak punya harta,
Yang ku punya hanyalah hati yang setia,
Tulus padamu

Begitulah kiranya lirik lagu cinta luar biasa dari Andmes yang mencerminkan kisah cinta para manusia yang tak kunjung sadar akan kenaifannya, dialah mahasiswa.

Kisah cinta yang dipertontonkan di ruang publik saat ini sangat mengundang decak kagum bagi para penikmatnya. Apalagi film-film kekinian yang seringkali menyisipkan kisah cinta ditengah cerita utama mereka. Kisah cerita yang romatis di luar akal sehat dan apabila kisah tersebut terjadi di dunia nyata, entah satpol pp atau efpei yang akan meluluhlantakan mereka.

Cerita cinta SMA layaknya Dilan dan Milea, cerita cinta di atas samudera seperti Jack dan Rose, bahkan cerita cinta legenda yang tercermin dalam cerita Rama dan Shinta memberikan pengaruh yang luar biasa besar terhadap dunia percintaan bagi para golongan muda yang tengah mencari-cari jati diri percintaan mereka.

Model percintaan yang seperti itulah yang kemudian menimbulkan anggapan bahwa syarat dan rukun bercinta lahir dengan cara sesederhana itu. Padahal sama sekali tidak.

“Aku cinta kamu apa adanya”,
“meskipun aku tak punya materi, tapi cintaku padamu tak akan pernah luntur”,
“aku tidak akan pernah menyerah dalam membahagiakan kamu”. Apakah jurus tersebut mampu membuat hati wanita tersanjung-sanjung? Mungkin bisa, tapi tidak selamanya bisa.

Kenaifan mahasiswa sebagai penikmat cinta luar biasanya Andmesh semakin hari semakin menjadi-jadi. Maka tidak jarang para mahasiswa misquen yang “kecelik” dalam hal percintaan. Misalnya hal paling mengerikan adalah “ditinggal rabi”.

Pada masa itu, mahasiswa misquen akan mencari-cari cara untuk sesegera mungkin melupakan pasangannya itu. Misalnya dengan mencari kata-kata bijak untuk mengobati hatinya, mendengarkan lagu happy, traveling, dan lain sebagainya. Namun seberapa efektifkah hal itu?

Efektif saja apabila setelah semuanya selesai, konsep percintaan mereka diubah.
Dari konsep cinta awang-awang, menuju konsep yang lebih realistis. Misalnya birunya cinta yang seperti langit diubah menjadi birunya cinta dalam wujud lembaran kertas di dalam dompet.

Cinta tulus dalam kata diubah menjadi cinta tulus dalam perbuatan. Atau, akan berkorban sepenuh hati diubah menjadi akan berkorban dan memberikan kamu apapun yang kamu mau. Sederhana bukan? Sederhana ndiasmu!!!

Jadi intinya, semakin dewasa, wanita semakin realistis dalam menghadapi kalian, wahai para pejuang cinta utopis. Wanita tak lagi akan peduli kata-kata cintamu yang kau kutip dari google atau acara tivi.

Ubahlah cara bercintamu dengan cinta yang lebih bisa diterima. Karena hubungan yang kamu jalani adalah hubungan antara manusia dan manusia. Dan sifat manusia adalah praktis dan empiris.

Maka untuk mendapatkan cinta para manusia, cintamu harus efektif dan empiris.

Tidak ada solusi dalam artikel ini? Memang tidak ada. Jadi jika tidak ingin kecelik lagi, bercintalah dengan realistis atau kalian jomblo seumur hidup.